HAKIKAT BAHASA
Pendahuluan
Definisi Bahasa
Defenisi
bahasa dari Kridalaksana bahwa: “Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang
arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerjasama,
berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri”, dan yang sejalan dengan definisi
mengenai bahasa dari beberapa pakar lain, kalau dibutiri akan didapatkan
beberapa ciri atau sifat yang hakiki dari bahasa. Sifat atau ciri itu, antara
lain, adalah :
1. Bahasa adalah sebuah sistem
2. Bahasa berwujud lambang
3. Bahasa berupa bunyi
4. Bahasa bersifat arbiter
5. Bahasa itu bermakna
6. Bahasa bersifat konvensional
7. Bahasa bersifat unik
8. Bahasa bersifat universal
9. Bahasa itu bervariasi
10. Bahasa bersifat produktif
11. Bahasa bersifat dinamis
12. Bahasa berfungsi sebagai alat interaksi sosial
13. Bahasa merupakan identitas penuturnya
2. Bahasa berwujud lambang
3. Bahasa berupa bunyi
4. Bahasa bersifat arbiter
5. Bahasa itu bermakna
6. Bahasa bersifat konvensional
7. Bahasa bersifat unik
8. Bahasa bersifat universal
9. Bahasa itu bervariasi
10. Bahasa bersifat produktif
11. Bahasa bersifat dinamis
12. Bahasa berfungsi sebagai alat interaksi sosial
13. Bahasa merupakan identitas penuturnya
1. Bahasa sebagai sistem
Sebagai
sebuah sistem, bahasa itu sekaligus bersifat sistematis dan sistemis. Dengan
sistemis, artinya, bahasas itu tersusun menurut suatu pola: tidak tersusun
secara acak, secara sembarangan. Sedangkan sistemis, artinya, bahasa itu bukan
merupakan sistem tunggal, tetapi terdiri juga dari sub-sub sistem; atau sistem
bawahan. Di sini dapat disebutkan, antara lain, subsistem fonologi, subsistem
morfologi, subsistem sintaksis dan subsistem semantik. Tiap unsur dalam setiap
subsistem juga tersusun menurut aturan atau pola tertentu, yang secara keseluruhan
membentuk satu sistem.
Jika
tidak tersusun menurut aturan atau pola tertentu, maka subsistem itu pun tidak
dapat berfungsi. Sub sistem bahasa terutama subsistem fonologi, morfologi, dan
sintaksis tersusun secara hierarkial. Artinya, subsistem yang satu terletak di
bawah subsistem yang lain; lalu subsistem yang lain ini terletak pula di bawah
subsistem lainnya lagi. Ketiga subsistem itu (fonologi, morfologi, dan
sintaksis) terkait dengan subsistem semantic. Sedangkan subsistem leksikon yang
juga diliputi subsistem semantic, berada di luar ketiga subsistem struktural
itu.
2. Bahasa sebagai lambang
Lambang
dengan berbagai seluk beluknya dikaji orang dalam kegiatan ilmiah dalam bidang
kajian yang disebut ilmu semiotika atau semiologi, yaitu ilmu yang mempelajari
tanda-tanda yang ada dalam kehidupan manusia, termasuk bahasa. Dalam semiotika
atau semiologi (yang di Amerika ditokohi oleh Charles Sanders Peirce dan di
Eropa oleh Fendinand de Saussure) dibedakan adanya beberapa jenis tanda, yaitu,
antara lain tanda (sign), lambing (simbol), sinyal (signal), gejala (symptom),
gerak isyarat (gesture),kode, indeks, danikon.
Tanda
selain dipakai sebagai istilah generic dari semua yang termasuk kajian
semiotika juga sebagai salah satu dari unsur spesifik kajian semiotika itu,
adalah suatu atau sesuatu yang dapat menandai atau mewakili ide, pikiran,
perasaan, benda, dan tindakan secara langsung dan alamiah. Misalnya, kalau di
kejauhan tampak ada asap membumbung tinggi, maka kita tahu bahwa di sana pasti
ada api, sebab asap merupakan tanda akan adanya api itu. Berbeda dengan tanda,
lambang atau simbol tidak bersifat langsung dan alamiah. Lambing menandai
sesuatu yang lain secarakonvensional, tidak secara alamiah dan langsung. Karena
itu lambang sering disebut bersifat arbiter, sebaliknya, tanda serperti yang
sudah dibicarakan di atas, tidak bersifat arbiter. Yang dimaksud arbiter adalah
tidak adanya hubungan langsung yang bersifat wajib antara lambing dengan yang
dilambangkannya. Oleh karena itulah, Earns Cassier, seorang sarjana dan filosof
mengatakan bahwa manusia adalah makhluk bersimbol (animal symbolicum). Hampir
tidak ada kegiatan yang tidak terlepas dari symbol. Termasuk alat komunikasi
verbal yang disebut bahasa. Satuan-satuan bahasa, misalnya kata, adalah symbol
atau lambang.
Tanda-tanda itu adalah sinyal gerak isyarat (gesture), gejala, kode, indeks, dan ikon. Yang dimaksud dengan sinyal atau isyarat adalah tanda yang disengaja yang dibuat oleh pemberi sinyal agar si penerima sinyal melakukan sesuatu.
Tanda-tanda itu adalah sinyal gerak isyarat (gesture), gejala, kode, indeks, dan ikon. Yang dimaksud dengan sinyal atau isyarat adalah tanda yang disengaja yang dibuat oleh pemberi sinyal agar si penerima sinyal melakukan sesuatu.
3. Bahasa adalah bunyi
Kata
bunyi, yang sering sukar dibedakan dengan kata suara, sudah biasa kita dengar
dalam kehidupan sehari-hari. Secara teknis, menurut Kridalaksana (1983:27)
bunyi adalah kesan pada pusat saraf sebagai akibat dari getaran gendang telinga
yang bereaksi karena perubahan-perubahan dalam tekanan udara.
Bunyi
bahasa atau bunyi uajaran (speech sound) adalah satuan bunyi yang dihasilkan
oleh alat ucap manusia yang di dalam fonetik diamati sebagai “fon” dan di dalam
fonemik sebagai “fonem”.
4. Bahasa itu bermakna
Oleh
karena lambang-lambang itu mengacu pada sesuatu konsep, ide, atau pikiran, maka
dapat dikatakan bahwa bahasa itu mempunyai makna. Lebih umum dikatakan lambang
bunyi tersebut tidak punya referen, tidak punya rujukan.
Makna
yang berkenaan dengan morfem dan kata disebut makna leksikal; yang berkenaan
dengan frase, klausa, dan kalimat disebut makna gramatikal; dan yang berkenaan
dengan wacana disebut makna pragmatic, atau makna konteks.
5. Bahasa itu arbiter
Kata
arbiter diartikan sewenang-wenang, berubah-ubah, tidak tetap, mana suka. Yang
dimaksud dengan istilah arbiter itu adalah tidak adanya hubungan wajib antara
lambang bahasa (yang berwujud bunyi itu) dengan konsep atau pengertian yang dimaksud
oleh lambang tersebut.
Ferdinand
de Saussure (1966:67) dalam dikotominya membedakan apa yang disebut significant
(Inggris: signifier) dan signifie (Inggris: signified). Signifiant adalah
lambang bunyi itu, sedangkan signifie adalah konsep yang dikandung oleh
signifiant.
6. Bahasa itu konvensional
Meskipun
hubungan antara lambang bunyi dengan yang dilambangkannya bersifat arbiter,
tetapi penerimaan lambang tersebut untuk suatu konsep tertentu yang bersifat
konfensional. Artinya semua anggota masyarakat bahasa itu mematuhi konfensi
bahwa lambang tertentu itu digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya.
Jadi kalau kearbiteran bahasa pada hubungan antara lambanag-lamabang bunyi
dengan konsep yang dilambangkannya, maka kekonfensionalan bahasa terletak pada
kepatuhan para penutur bahasa untuk menggunakan lambang itu sesuai dengan
konsep yang dilambangkannya.
7. Bahasa itu produktif
Kata
produktif adalah bentuk ajektif dari kata benda produksi. Arti produktif “
banyak hasilnya” atau lebih tepat “terus menerus menghasilkan” lalu, kalau
bahasa itu dikatakan produktif, maka maksudnya, meskipun unsure-unsur itu
terbatas, tapi dengan unsur-unsur dengan jumlahny ayng terbatas terdapat di
luar satuan-satuan bahasa yang jumlahnya yang tidak terbatas, meski secara
relative sesuai dengan sistem yang berlaku dalam bahasa.
Keproduktifan
bahasa Indonesia dapat juga dilihat pada jmumlah yang dapat dibuat. Dengan kosa
kata yang menurut Kamus Besar Huruf Bahasa Indonesia hanya berjumlah lebih
kurang 60.000 buah, kita dapat membuat kalimat bahasa Indonesia yang mungkin
puluhan juta banyaknya, termasuk juga kalimat-kalimat yang belum pernah ada
ataupernah dibuat orang. Keproduktifan bahasa memang ada batasnya dalam hal ini
dapat dibedakan adanya dua macam keterbatasan, yaitu keterbatasan pada tingkat
parole dan keterbatasan pada tingkat langue. Keterbatasan pada tingkat parole
adalah pada ketidak laziman atau kebelum laziman bentuk-bentuk yang dihasilkan.
Sedangkan pada tingkat langue keproduktifan itu dibatasi karena kaidah atau
sistem yang berlaku.
8. Bahasa itu unik
Unik
artinya mempunyai ciri khas yang spesifik yang tidak dimiliki oleh yang lain.
Lalu, kalau bahasa dikatakan bersifat unik., maka artinya, setiap bahasa
mempunyai cirri khas sendiri yang tidak dimiliki oleh bahasa lainnya. Ciri khas
ini bisa menyangkut sistem bunyi , sistem pembetukkan kata, sistem pembentukkan
kalimat, atau sistem-sistem lainnya. Salah satu keunikkan bahasa Indonesia
adalah bahwa tekanan kata tidak bersifat morfemis, melainkan sintaksis.
Maksudnya, kalau pada kata tertentu di dalam kalimat kita berikan tekanan, maka
makna itu tetap. Yang berubah adalah makna keseluruhan kalimat.
9. Bahasa itu universal
Selain
bersifat unik, yakni mempunyai sifat atau cirri masing-masing, bahasa itu
bersifat universal. Artinya, ada ciri-ciri yang sama yang dimiliki oleh setiap
bahasa yang ada di Dunia ini. Ciri-ciri yang universal ini merupakan unsur
bahasa yang paling umum, yang biasa dikaitkan dengan ciri-ciri atau sifat-sifat
bahasa lain.
Karena
bahasa itu berupa ujaran, maka ciri universal dari bahasa yang paling umum
adalah bahwa bahasa itu mempunyai bunyi bahasa yang terdiri dari vocal dan
konsonan. Tetapi berapa banyak vocal dan konsonan yang dimiliki oleh setiap
bahasa, bukanlah persoalan keuniversalan. Bukti dari keuniversalan bahasa
adalah bahwa setiap bahasa mempunyai satuan-satuan bahasa yang bermakna, entah
satuan yang maknany kata, frase, klausa, kalimat, dan wacana. Namun, bagaimana
satuan-satuan itu terbentuk mungkin tidak sama. Kalau pembentukan itu bersifat
khas, hanya dimiliki sebuah bahasa maka hal itu merupakan keunikan dari bahasa.
Kalau ciri itu dimiliki oleh sejumlah bahasa dalam satu hukum atau satu
golongan bahasa, maka ciri tersebut menjadi ciri universal dan keunikan rumpun
atau sub rumpun bahasa tersebut. Ada juga yang mengatakan bahwa ciri umum yang
dimiliki oleh bahasa-bahasa yang berada dalam satu rumpun atau sub rumpun, atau
juga dimiliki oleh sebagian besar bahasa-bahasa yang ada di Dunia ini sebagai
ciri setengah universal. Kalau dimiliki oleh semua bahasa yang ada di Dunia ini
beru bisa disebut universal.
10. Bahasa itu dinamis
Bahasa adalah satu-satunya milik
manusia yang tidak perbah lepas dari segala kegiatan dan gerak manusia
sepanjang keberadaan manusia itu, sebagai makhluk yang berbudaya dan
bermasyarakat tak ada kegiatan manusia yang tidak disertai oleh bahasa. Malah dalam bermimpi pun manusia
menggunakan bahasa. Karena keterkaitan dan keterikatan bahasa itu dengan
manusia, sedangkan dalam kehidupannya dalam manusia nya kegiatan manusia tidak
tetap dan tidak berubah, maka bahasa itu juda menjadoi ikut berubah, menjadi
tidak tetap, menjadi tidak statis. Karena itulah, bahas itu disebut dinamis.
Perubahahan
yang paling jelas, dan paling banyak adalah pada bidang leksikon dan semantik.
Barang kali, hamper setiap saat ada kata-kata baru muncul sebagai akibat
perubahan dan ilmu, atau ada kata-kata lama yang muncul dengan makna baru. Hal
ini juga dipahami, karen kata sebagai satuan bahasa terkecil, adalah sarana
atau wadah untuk menampung suatu konsep yang ada dalam masyarakat bahasa.
Dengan terjadinya perkembangan kebuidayaan, perkembang ilmu dan tekhnologi, tentu
bermunculan konsep-konsep baru, yang tentunya disertai wadah penampungnya,
yaitu kata-kata atau istilah-istilah baru.
Perubahan
dalam bahasa ini dapat juga bukan terjadi berupa pengembangan dan perluasan,
melainkan berupa kemunduran sejalan dengan perubahan yang dialami masyarakat
bahasa yang bersangkutan. Berbagaio laasan sosial dan politik menyebabkan orang
meninggalkan bahasanya, atau tidak lagi menggunakan bahasanya, lalu menggunakan
bahasa lain. Di Indonesia, kabarnya telah banyak bahasa daerah yang telah
ditinggalkan para penuturnya terutaam dengan alasan sosial. Jika ini terjadi
terus menurus, maka pada suatu saat kelak banyak bahasa yang hanya ada
beradadalam dokumentasi belaka, karena tidak ada lagi penuturnya.
11. Bahasa itu
bervariasi
Setiap
bahasa digunakan oleh sekelompok orang yang termasuk dalam suatu masyarakat
bahasa. Yang termasuk dalam masyarakat bahsa adalah mereka merasa menggunakan
bahasa yang sama. Jadi, kalau disebut masyarakat bahasa Indonesia adalah semua
orang yang merasa memiliki dan menggunakan bahasa Indonesia.
Anggota masyarakat suatu bahasa biasanya terdiri dari ber bagai orang dengan berbagai status sosial dan berbagai latar belakang budaya yang tidak sama. Oleh karena itu, karena latar belakang dan lingkungannya yang tidak sama, maka bahasa yang mereka gunakan menjadi bervariasi atau beragam, dimana antara variasi atau ragam yang satu dengan yang lain sering kali mempunyai perbedaan yang besar.
Anggota masyarakat suatu bahasa biasanya terdiri dari ber bagai orang dengan berbagai status sosial dan berbagai latar belakang budaya yang tidak sama. Oleh karena itu, karena latar belakang dan lingkungannya yang tidak sama, maka bahasa yang mereka gunakan menjadi bervariasi atau beragam, dimana antara variasi atau ragam yang satu dengan yang lain sering kali mempunyai perbedaan yang besar.
Mengenai
variasi bahasa ini ada tiga istilah yang perlu diketahui, yaitu idiolek,
dialek, dan ragam. Idiolek adalah variasi atau ragam bahasa yang bersifat
perseorangan. Setiap orang tentu mempunyai ciri khas bahasanya masing-masing.
Kalau kita banyak membaca karangan orang yang banyak menulis, misalnya, Hamka,
Sutan Takdir Alisyahbana, Hamingway, atau Mark twain , maka kita akan dapat
mengenali ciri khas atau idiolek pengarang-pengarang itu. Dialek adalah variasi
bahasa yang di gunakan oleh sekelompok anggota masyarakat pada suatu tempat
atau suatu waktu. Variasi bahasa berdasarkan tempat ini lazim disebut dengan
nama dialek regional , dialek area, atau dialek geografi. Sedangkan variasi
bahasa yang digunakan sekelompok anggota masyarakat dengan status sosial
tertentu disebut dialek sosial atau sosiolek.
Ragam
atau ragam bahasa adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi, keadaan,
atau untuk keperluan tertentu. Untuk situasi formal digunakan ragam bahasa yang
disebut ragam baku atau ragam standar, untuk situasi yang tidak formal
digunakan ragam yang tidak baku atau ragam nonstandar. Dari sarana yang
digunakan dapat dibedakan adanya ragam lisan dan ragam tulisan. Untuk keperluan
pemakaiannya dapat dibedakan adanya ragam bahasa ilmiah, ragam bahasa
jujrnalistik, ragam bahasa sastra, ragam bahasa militer, dan ragam bahasa hukum.
12. Bahasa itu
manusiawi
Kalau
kita menyimak kembali cirri-ciri bahasa, yang sudah dibicarakan dimuka, bahwa
bahasa itu adalah sistem lambang bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia,
bersifat arbitrer, bermakna, dan produktif, maka dapat dikatakan bahwa binatang
tidak mempunyai bahasa. Bahwa binatang dapat berkomunikasi dengan sesama
jenisnya, bahkan juga dengan manusia, adalah memang suatu kenyataan. Namun,
alat komunikasinya tidaiklah sama dengan alat komunikasi manusia, yaitu bahasa.
Dari
penelitian para pakar terhadap alat komunikasi binatang bisa disimpulkan bahwa
satu-satuan komunikasi yang dimiliki binatang-binatang itu bersifat
tetap.sebetulnya yang membuat alat komunikasi manusia itu, yaitu bahasa,
produktif dan dinamis, dalam arti dapat dipakai untuk menyatakan sesuatu yang
baru, berbeda dengan alat komunikasi binatang, yang hanya itu-itu saja dan
statis , tidak dapat dipakai untuk menyatakan sesuatu yang baru, bukanlah
terletak pada bahasa itu dan alat komunikasi binatang itu, melainkan pada
perbedaan besar hakikat manusia dan hakikat binatang. Manusia sering
disebut-sebut sebagai homosapiens makhluk yang berpikir, homososio makhluk yang
bermasyarakat, homofabel makhluk pencipta alat-alat dan juga animalrasionale
makhluk rasional yang beerakal budi. Maka dengan segala macam kelebihannya itu
jelas manusia dapat memikirkan apa saja yang lalu, yang kini, dan yang masih
akan datang, serta menyampaikannya kepada orang lain melalui alat
komunikasinya, yaitu bahasa. Oleh karena itu bisa disimpulkan bahwa alat
komunikasi manusia yang namanya bahasa, adalah bersifat manusiawi, dalam arti
hanya milik manusia dan hanya dapat digunakan oleh manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar